BUAH MERAH (Pandanus conoideus Lam)

Filed Under: Admin on 4 Oct 2017

FAKTA ILMIAH BUAH MERAH

Buah merah, secara empiris dan turun temurun telah dimanfaatkan sebagai sumber gizi maupun untuk pengobatan tradisional. Berbagai penelitian modern pun memberikan fakta yang mendukung keberadaan buah merah sebagai tanaman yang sangat bermanfaat.

Potensi Antikanker Payudara dan Rahim

Potensi buah merah untuk mengobati kanker dikemukakan oleh Prof. Sukarti Moeljopawiro,Ph.D., dosen Fakultas Biologi UGM Yogyakarta. Sukarti menyampaikan bahwa sari buah merah dapat membunuh 50% sel kanker payudara, sel kanker leher rahim, dan sel kanker usus besar. Dalam penelitian Sukarti, kandungan golongan senyawa toksik terhadap sel kanker payudara dan leher rahim adalah terpen. Terdapat 25 senyawa yang didominasi 9-octadecenoic acid sebanyak 45 persen dan hexadecanoid acid sekitar 14,7 persen,” ujar lulusan Program Doktor Universitas Missouri Columbia, Amerika, tahun 1985 ini.

Dari hasil pengujian antikanker terhadap buah merah tumbuhan endemik Papua ini, ekstrak paling toksik terhadap sel kanker rahim dan kanker payudara adalah ekstrak klorofor varietas lokal Maler dan ekstrak methanol varietas lokal Mbarugum.

Pengujian sitotoksitas buah merah terhadap sel kanker juga pernah dilakukan oleh Maksum Radji, Hendri Aldrat, Yahdiana Harahap, C. Irawan. Tim ini merupakan gabungan dari Departemen Farmasi, FMIPA – UI, Depok dan Rumah Sakit Kanker Dharmais, Jakarta. Pengujian menggunakan tiga jenis ekstrak yang berasal dari buah merah, mahkota dewa dan temu putih. Dari hasil uji tersebut membuktikan bahwa buah merah dapat menghambat pertumbuhan sel HeLa kanker servik atau kanker leher rahim.

Kaya Antioksidan

Ahli gizi dan dosen Universitas Cendrawasih (UNCEN) Jayapura, Drs. I.Made Budi M.S. termasuk orang yang pertama melakukan penelitian terhadap khasiat buah merah bagi kesehatan. Hasil penelitian yang dilakukan terhadap kebiasaan masyarakat tradisional di Wamena, Timika dan kawasan pengunungan Jayawijaya yang mengonsumsi buah merah menunjukkan keistimewaan fisik dan jarang terkena penyakit degeneratif seperti hipertensi, diabetes, penyakit jantung dan kanker. Hal ini disebabkan oleh kandungan gizi buah merah yang kaya dengan antioksidan karoten, betakaroten, dan tokoferol disamping zat lain yang dapat meningkatkan daya tahan tubuh. Tingginya kadar betakarotin dan tokoferol meyakinkan Made bahwa buah merah dapat dimanfaatkan sebagai antioksidan untuk mengatasi kanker dan mengobati penderita HIV/AIDS.

Antioksidan Mengobati Malaria

Susy Tjahjani dan Khie Khiong dari Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Maranatha, Bandung, melakukan penelitian untuk melihat potensi buah merah sebagai antioksidan untuk mengatasi malaria. Penelitian dilakukan untuk mengetahui dampak pemberian sari buah merah dapat menurunkan kadar TNF-a, ICAM 1, dan derajat parasitemia pada mencit dengan malaria berghei. Hasil penelitian membuktikan bahwa pemberian sari buah merah (Pandanus conoideus Lam) pada mencit dengan malaria berghei dapat menurunkan persentase parasitemia, kadar serum TNF-a dan ICAM 1. Hal tersebut menunjukkan bahwa sari buah memiliki potensi dalam pengobatan malaria dan menghambat terjadinya cerebral malaria.

Pengaruh Ekstrak Buah Merah terhadap Kadar Glukosa Darah

Penelitian yang dilakukan Yoni Astuti dan Lisa La Rosma Dewi dari Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Yogyakarta bertujuan untuk melihat dampak pemberian ekstrak buah merah terhadap kadar glukosa darah. Hasil penelitian membuktikan bahwa pemberian ekstrak buah merah (Pandanus conoideus Lam) 1 kali sehari selama 24 hari dengan dosis 45 ml, mempunyai efek yang signifikan dalam menurunkan kadar glukosa darah pada tikus putih jantan galur Sprague Dawley yang diinduksi alloxan.

Buah Merah sebagai Antiinfeksi/Iritasi

Prof. Elin Yulinah Sukandar dari Jurusan Farmasi ITB melakukan uji pendahuluan terhadap klaim buah merah sebagai antiinfeksi. Pengujian dilakukan dengan menyuntikkan 3 cendawan/bakteri berbeda, yakniCandida albicans, Staphylucoccus aureus, dan Microsporum gypseum pada setiap punggung 3 kelinci jantan berbobot masing-masing 2,5 kg.

Candida albicans merupakancendawan penyebab penyakit infeksi pada saluran pernapasan, pencernaan, dan organ lain. Ia menyerang pasien yang memiliki kondisi tubuh lemah dan acap terjadi pada penderita HIV/AIDS. Staphylucoccus aureusadalah jenis kuman penyebab infeksi kulit hingga terjadi bisulatau luka bernanah. Ia juga menyerang saluran pencernaan. Sedangkan Microsporum gypseum penyebab penyakit kulit, pemakan zat tanduk atau keratin, serta merusak kuku dan rambut. Selama 9 hari setelah penyuntikkan cendawan, Elin mengamati eritema alias pemerahan, eschar atau luka, dan pembentukan udem atau yang populer sebagai bengkak.

Sehari setelah diberi bakteri dan cendawan, indeks iritasi sedang pada skala 4. Artinya, eritema berat dan pembentukan eschar. Namun, setelah luka diolesi ekstrak buah merah hari ke-2, skala iritasi turun menjadi 3. Iritasi itu kian mengecil dan sembuh total pada hari ke-8 dan sebagian ke-9. Sebaliknya, kelinci yang tak diolesi ekstrak buah merah hingga hari ke-9 belum juga sembuh. Saat itu indeks iritasi pada skala 2 (eritema sedang-berat) alias masih tetap mengalami peradangan. Dengan uji itu buah merah amat berpotensi sebagai antiiritasi/infeksi.